Minggu, 25 Desember 2016

Festival Budaya UPGRIS



Nama   : Ninik Hidayati
Kelas   : 3E
NPM   : 15410210


Festival Budaya Universitas PGRI Semarang

            Semarang (27/10) Balairung Universitas PGRI Semarang kembali menyemarakkan puncak Bulan Bahasa 2016. Bulan Bahasa diadakan untuk memperingati Sumpah Pemuda. Maka, dengan semangat 45 Universitas PGRI Semarang selalu memberikan kegiatan yang selalu berkaitan dengan sumpah pemuda. Berbeda dari tahun sebelumnya, tahun ini acara Bulan Bahasa tidak ada kirab untuk keliling area kampus dengan jalan kaki. Tahun ini lebih mengutamakan kegiatan di dalam kampus dengan menampilkan kreasi dari masing-masing kelas. Acara ini dihadiri oleh Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni beserta Dosen. Tepat pukul 08.00 WIB seluruh Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni menempatkan diri di kursi yang telah disediakan oleh panitia.
            Menunggu acara dimulai dan tamu berdatangan awal acara diselingi dengan penampilan 2 orang Mahasiswa membawakan lagu Ada band yang berjudul “Masih” semua yang berada di Balairung terhanyut dengan penampilan mereka. Maklumlah mayoritas perempuan sehingga terhanyut oleh syair-syair Ada Band.
            Ketika pukul 08.30 Rektor menghadiri kemeriahan Bulan Bahasa tepat di Balairung. Acara resmi dibuka dengan masing-masing Mahasiswa mengenakan pakaian dari berbagai provinsi di Indonesia. Sangat meriah sekali ketika mereka naik ke atas panggung. Presiden Mahasiswa, seorang perempuan berpakaian budha, Kristen, dan Papua ikut naik ke atas panggung untuk membacakan ikrar Sumpah Pemuda. Terlebih ketika ada perempuan menyanyikan “Satu Nusa Satu Bangsa” sangat merinding. Perpaduan mereka menunjukkan bahwa berbeda-beda budaya tetapi tetap satu bangsa dan satu bahasa tidak ada perbedaan diantara semuanya. Seluruh pemuda Indonesia akan menjunjung tinggi nilai-nilai Indonesia.
            Acara selanjutnya yaitu pembukaan puncak peringatan Bulan Bahasa oleh Rektor dengan mengajak semua yang berada di Balairung mengikuti aba-aba dari beliau. Sekelompok dari Mahasiswa menggunakan tempat sampah, stik drum, alat tempat parkir digunakan untuk menghasilkan bunyi. Menarik memang jika diperhatikan dengan mata terbuka. Rektor memimpin pukulan stik tersebut dengan sangat bersemangat.
            Semangat ditunjukkan oleh Rektor sama terjadi dengan seorang Mahasiswa berasal dari Perancis yang baru menetap di Indonesia 4 bulan ini. Namanya Marlina, ia ingin mempelajari budaya di Indonesia. Maka ia ikut memperingati sumpah pemuda dengan mengikuti menari bersama ketiga Mahasiswa UPGRIS. Mereka berempat menari “Jublak-jublak suweng” dengan sangat luwes. Orang luar saja bangga dengan budaya Indonesia, kita sebagai asli orang Indonesia seharusnya lebih bangga dengan budaya yang kita miliki.
            Dengan kebanggaan tersebut, Mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa  Jawa membukikan bahwa mereka mengikuti stand up Bahasa Jawa menjadi juara satu tingkat kota Semarang. Ternyata yang menjadi juaranya adalah 2 diantara penari Jublak-jublak suweng yang menari bersama Marlina (Mahasiswa dari Perancis). Mereka melawak tetapi menghasilkan suatu motifasi yang patut dicontoh. Penonton yang melihat lawakannya ikut tertawa terbahak-bahak. Sangat menarik perhatian Mahasiswa maupun para Dosen yang menghadirinya.
            Sebagai pembawa acara Bu diah kembali menyebutkan bahwa acara Bulan Bahasa pada intinya akan menampilkan festival lomba antarkelas. Lomba tersebut diikuti oleh 27 peserta atau 27 kelas. Terdapat juga 3 juri yang akan menilai penampilan dari masing-,masing kelas. Peserta yang tampil pertama yaitu kelas 3F PBSI, mereka menampilkan tari Jaipong diikuti flas mop. Sungguh histeris teriakan penonton ketika ada salah satu penari menampilkan kreativitasnya layaknya penari korea. Tidak sepantasnya tarian tersebut disajikan karena terkesan seperti erotis. Tidak sopan untuk para juru maupun Dosen yang menyaksikannya.
            Satu per satu penampilan antarkelas mendapat giliran. Setiap kelas menampilkan tarian dari berbagai daerah. Durasi waktu yang diberikan yaitu 5-7 menit. Mayoritas semua peserta menampilkan tari yang berasal dari Bali. Mengapa banyak yang mengusung tema Bali? Apakah karena pakaian adat atau memang budayanya? Ya itulah kreativitas yang berasal dari masing-masing pemikiran kelas.
Tetapi minoritas ada yang tidak menampilkan tarian dari Bali. Eksotisnya yaitu penampilan Reok Ponorogo yang membuat heboh seluruh isi Balairung terkesan kaget, senang, bangga. Penampilan Reok tersebut tidak ada perpaduan dengan tarian yang lainnya. Asli dengan tarian tersebut terkesan alami. Banyak yang mengabadikan momen tersebut baik Mahasiswa maupun Dosen dengan cara memfoto ataupun video.
Di nomor undian 20 ke atas terdapat kelas yang  menampilkan tariannya pertama dengan sangat lemah gemulai. Pada pertengahan tarian mereka tampil dengan flas mop korea. Pakaian salah satu dari penari agak tidak sopan karena kemben atasannya turun ke bawah. Membuat teriakan lagi dengan adanya kejadian tersebut. Beruntunglah tarian itu segera berakhir. Ketiga juri tentunya tercengang melihat kejadian tersebut.
Tidak terasa penampilan dari 27 peserta akan segera berakhir. Kira-kira pukul 14.30 semua peserta telah menampilkan idenya. Bu diah memberikan kesempatan dari masing-masing jurusan untuk memberi saran Bulan Bahasa tahun ini maupun tahun depan, Rata—rata Mahasiswa memberikan saran dengan mengadakan acara rutin setiap tahunnya di bulan Oktober.
Sekarang tiba saatnya ketiga juri mengumumkan siapa yang menjadi juara harapan dan juara umum. Sebelum mengumumkan siapa yang mendapat juara. Penutupan festival budaya UPGRIS dilakukan dengan bergoyang flas mop bersama-sama. Dalam Flash moop memilih lagu Via Valen “Sayang”. Semua mengikuti alunan retmik dengan gerakan yang dipandu oleh salah satu laki-laki muda seperti DJ. Setelah Flash moop dilakukan, tiba saatnya mengumumkan pemenangnya. Pemenangnya jatuh kepada kelas yang menampilkan reok ponorogo yang khas dengan barongannya. Acara semakin meriah dan sangat meriah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar