Nama : Ninik Hidayati
Kelas : 3E
NPM : 15410210
Festival Budaya
Universitas PGRI Semarang
Semarang (27/10)
Balairung Universitas PGRI Semarang kembali menyemarakkan puncak Bulan Bahasa
2016. Bulan Bahasa diadakan untuk memperingati Sumpah Pemuda. Maka, dengan
semangat 45 Universitas PGRI Semarang selalu memberikan kegiatan yang selalu
berkaitan dengan sumpah pemuda. Berbeda dari tahun sebelumnya, tahun ini acara
Bulan Bahasa tidak ada kirab untuk keliling area kampus dengan jalan kaki.
Tahun ini lebih mengutamakan kegiatan di dalam kampus dengan menampilkan kreasi
dari masing-masing kelas. Acara ini dihadiri oleh Mahasiswa Fakultas Bahasa dan
Seni beserta Dosen. Tepat pukul 08.00 WIB seluruh Mahasiswa Fakultas Bahasa dan
Seni menempatkan diri di kursi yang telah disediakan oleh panitia.
Menunggu acara dimulai dan tamu berdatangan awal acara
diselingi dengan penampilan 2 orang Mahasiswa membawakan lagu Ada band yang
berjudul “Masih” semua yang berada di Balairung terhanyut dengan penampilan
mereka. Maklumlah mayoritas perempuan sehingga terhanyut oleh syair-syair Ada
Band.
Ketika pukul 08.30 Rektor menghadiri kemeriahan Bulan
Bahasa tepat di Balairung. Acara resmi dibuka dengan masing-masing Mahasiswa
mengenakan pakaian dari berbagai provinsi di Indonesia. Sangat meriah sekali
ketika mereka naik ke atas panggung. Presiden Mahasiswa, seorang perempuan
berpakaian budha, Kristen, dan Papua ikut naik ke atas panggung untuk
membacakan ikrar Sumpah Pemuda. Terlebih ketika ada perempuan menyanyikan “Satu
Nusa Satu Bangsa” sangat merinding. Perpaduan mereka menunjukkan bahwa
berbeda-beda budaya tetapi tetap satu bangsa dan satu bahasa tidak ada
perbedaan diantara semuanya. Seluruh pemuda Indonesia akan menjunjung tinggi
nilai-nilai Indonesia.
Acara selanjutnya yaitu pembukaan puncak peringatan Bulan
Bahasa oleh Rektor dengan mengajak semua yang berada di Balairung mengikuti
aba-aba dari beliau. Sekelompok dari Mahasiswa menggunakan tempat sampah, stik
drum, alat tempat parkir digunakan untuk menghasilkan bunyi. Menarik memang
jika diperhatikan dengan mata terbuka. Rektor memimpin pukulan stik tersebut
dengan sangat bersemangat.
Semangat ditunjukkan oleh Rektor sama terjadi dengan
seorang Mahasiswa berasal dari Perancis yang baru menetap di Indonesia 4 bulan
ini. Namanya Marlina, ia ingin mempelajari budaya di Indonesia. Maka ia ikut
memperingati sumpah pemuda dengan mengikuti menari bersama ketiga Mahasiswa
UPGRIS. Mereka berempat menari “Jublak-jublak suweng” dengan sangat luwes.
Orang luar saja bangga dengan budaya Indonesia, kita sebagai asli orang Indonesia
seharusnya lebih bangga dengan budaya yang kita miliki.
Dengan kebanggaan tersebut, Mahasiswa jurusan Pendidikan
Bahasa Jawa membukikan bahwa mereka
mengikuti stand up Bahasa Jawa menjadi juara satu tingkat kota Semarang. Ternyata
yang menjadi juaranya adalah 2 diantara penari Jublak-jublak suweng yang menari
bersama Marlina (Mahasiswa dari Perancis). Mereka melawak tetapi menghasilkan
suatu motifasi yang patut dicontoh. Penonton yang melihat lawakannya ikut
tertawa terbahak-bahak. Sangat menarik perhatian Mahasiswa maupun para Dosen
yang menghadirinya.
Sebagai pembawa acara Bu diah kembali menyebutkan bahwa
acara Bulan Bahasa pada intinya akan menampilkan festival lomba antarkelas.
Lomba tersebut diikuti oleh 27 peserta atau 27 kelas. Terdapat juga 3 juri yang
akan menilai penampilan dari masing-,masing kelas. Peserta yang tampil pertama
yaitu kelas 3F PBSI, mereka menampilkan tari Jaipong diikuti flas mop. Sungguh
histeris teriakan penonton ketika ada salah satu penari menampilkan
kreativitasnya layaknya penari korea. Tidak sepantasnya tarian tersebut
disajikan karena terkesan seperti erotis. Tidak sopan untuk para juru maupun
Dosen yang menyaksikannya.
Satu per satu penampilan antarkelas mendapat giliran.
Setiap kelas menampilkan tarian dari berbagai daerah. Durasi waktu yang
diberikan yaitu 5-7 menit. Mayoritas semua peserta menampilkan tari yang
berasal dari Bali. Mengapa banyak yang mengusung tema Bali? Apakah karena
pakaian adat atau memang budayanya? Ya itulah kreativitas yang berasal dari
masing-masing pemikiran kelas.
Tetapi
minoritas ada yang tidak menampilkan tarian dari Bali. Eksotisnya yaitu
penampilan Reok Ponorogo yang membuat heboh seluruh isi Balairung terkesan
kaget, senang, bangga. Penampilan Reok tersebut tidak ada perpaduan dengan tarian
yang lainnya. Asli dengan tarian tersebut terkesan alami. Banyak yang
mengabadikan momen tersebut baik Mahasiswa maupun Dosen dengan cara memfoto
ataupun video.
Di
nomor undian 20 ke atas terdapat kelas yang
menampilkan tariannya pertama dengan sangat lemah gemulai. Pada
pertengahan tarian mereka tampil dengan flas mop korea. Pakaian salah satu dari
penari agak tidak sopan karena kemben atasannya turun ke bawah. Membuat
teriakan lagi dengan adanya kejadian tersebut. Beruntunglah tarian itu segera
berakhir. Ketiga juri tentunya tercengang melihat kejadian tersebut.
Tidak
terasa penampilan dari 27 peserta akan segera berakhir. Kira-kira pukul 14.30
semua peserta telah menampilkan idenya. Bu diah memberikan kesempatan dari
masing-masing jurusan untuk memberi saran Bulan Bahasa tahun ini maupun tahun
depan, Rata—rata Mahasiswa memberikan saran dengan mengadakan acara rutin
setiap tahunnya di bulan Oktober.
Sekarang
tiba saatnya ketiga juri mengumumkan siapa yang menjadi juara harapan dan juara
umum. Sebelum mengumumkan siapa yang mendapat juara. Penutupan festival budaya
UPGRIS dilakukan dengan bergoyang flas mop bersama-sama. Dalam Flash moop
memilih lagu Via Valen “Sayang”. Semua mengikuti alunan retmik dengan gerakan
yang dipandu oleh salah satu laki-laki muda seperti DJ. Setelah Flash moop
dilakukan, tiba saatnya mengumumkan pemenangnya. Pemenangnya jatuh kepada kelas
yang menampilkan reok ponorogo yang khas dengan barongannya. Acara semakin
meriah dan sangat meriah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar