Minggu, 25 Desember 2016

UPGRIS Bersastra



Nama   : Ninik Hidayati
Kelas   : 3E
NPM   : 15410210


UPGRIS Bersastra

            Rabu (19/10) Balairung Universitas PGRI Semarang kembali dibanjiri oleh Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni dalam rangka Bulan Bahasa. Tak terkecuali dengan Mahasiswa beserta dosen yang sangat antusias memeriahkan acara Bulan Bahasa. Bulan Bahasa diadakan rutin setiap tahunnya pada bulan Oktober. Pada tahun ini mengusung tema dengan membedah buku karya Triyanto. Tema tersebut mengusung judul 3 buku, 3 pembaca, 3 kritikus, dan 1 pengarang.
            Pada awal acara Mahasiswa satu per satu berdatangan. Acara dimulai pukul 08.30 WIB dengan mempersembahkan penampilan Biscuittime. Lampu dimatikan supaya Mahasiswa fokus melihat ke depan. Acara selanjutnya berisi sambutan-sambutan kepada yang menghadiri kegiatan tersebut. Tepuk tangan dari Mahasiswa sangat ramai sekali.
Dalam bedah buku karya Bapak Triyanto terdapat 3 persembahan yang didalamnya mengandung makna dari beberapa karyanya. Pertama persembahan karya beliau dimulai dengan menghadirkan pementasan teatrikal. Pementasan tersebut menunjukkan sesosok perempuan laki-laki yang dilanda cinta melalui berbagai rintangan. Sorotan lighting sangat menggambarkan tarian tersebut. Kedua terdapat 7 orang yang sedang membacakan puisi dengan cara seperti dieja. Suara mereka tidak begitu lantang ketika di atas panggung. Kemungkinan tidak mengetahui karya siapa yang sedang dibacakan.
Perhatian Mahasiswa beralih ke hal lain karena dinilai kurang dimengerti. Mahasiswa tentunya bertanya-tanya puisi yang dilagukan seperti itu malah kurang mendapat perhatian. Ketiga yang sangat menghebohkan yaitu penampilan Bapak Rektor yang bersedia membacakan puisi. Sebelum membaca puisi Beliau menunjukkan talentanya bermain gitar yang telah terinspirasi dari guru Bahasa Indonesianya dahulu karena dinilai baik kepadanya. Sungguh menakjubkan penampilan Bapak Rektor. Seperti tidak percaya dengan penampilannya selama ini.
Tidak berhenti sampai di sana, Bu Suci selaku Wakil rektor tidak kalah saing dengan Bapak Rektor. Ia membacakan puisi ditemani oleh Mahasiswi Bahasa Inggris dengan diiringi alunan lagu Jawa. Sungguh luar biasa penampilan mereka berdua. Pembacaan puisi diiringi oleh penari-penari yang menggambarkan makna puisi tersebut. Ketiga persembahan merupakan gambaran dari karya Bapak Triyanto yang mewakili hasil puisi, cerpen, dll.

Dari beberapa penggambaran yang terdapat dalam hasil karya Bapak Triyanto ada 3 kritikus yaitu Nur Hidayat, Prasetyo Utomo, Widyanuari Eko Putro. Bapak Nur Hidayat merupakan kritikus yang pertama untuk mengulas tentang hasil karya Bapak Triyanto. Bapak Nur Hidayat menekankan jika hasil dari beberapa karya Bapak Triyanto akan sulit di baca orang lain. Karya sastranya begitu menunjukkan tidak semua orang paham dengan apa yang ia tuliskan. Bapak Nur Hidayat menilai dengan adanya karya sastra Bapak Triyanto, kualitasnya begitu tinggi karena dibutuhkan pendalaman untuk memahami isi-isinya.
Kritikus yang kedua yaitu Bapak Prasetyo Utomo. Beliau berkomentar lebih menjurus ke cerpen karya Bapak Triyanto. Menurut Bapak Prasetyo, cerpen Triyanto juga sangat sulit dipahami oleh pembaca. Dalam penulisan cerpen Triyanto menggunakan teori struktualisme yaitu teori membaca yang membutuhkan metode-metode tertentu secara bertahap. Cerpen-cerpennya hampir serupa dengan Ismail yang menggunakan 3 unsur. 3 unsur tersebut yaitu tokoh, latar, dan alur. Sebagian cerpen Triyanto memiliki 3 unsur yang mewakilinya. Maka tidak heran jika karyanya setiap tahun selalu masuk di koran kompas. Hal ini terbukti ketika salah satu judul buku “Bersepeda ke Neraka” dipertaruhkan dalam ajang tertentu.
Selanjutnya kritikus ketiga yaitu Widyanuari Eko Putro yang lebih mengkritik dalam bidang puisi. Wiwid memang baru mengenal teks Bapak Triyanto tahun 2009 hingga saat ini. Ia pertama kali mendapat antologi puisi Jawa Tengah dengan membeli buku di pasar Johar. Kemudian ia belajar terus-menerus hingga menggeluti di bidang puisi. Dengan demikian, Wiwid lebih tertarik dengan mengkritik puisi yang berjudul “Selir Musim Panas”. Menurutnya kumpulan kata-katanya sangatlah menarik dan bermakna. Meskipun Wiwid juga sependapat dengan kedua kritikus yang menurutnya sulit untuk membaca dan memahami 1 puisi. Oleh karena itu, 1 puisi Bapak Triyanto harus membaca 4 buku karya orang lain. Hal tersebut dilandasi dengan sulitnya menjadi penyair. Wiwid berpendapat bahwa ia bangga dengan Bapak Triyanto karena tidak mengusiakan dini menjadi seorang penyair.
Ketiga kritikus tersebut sangat bangga dengan hasil karya sastra Bapak Triyanto yang memang sangat menginspirasi generasi muda untuk terus berkarya. Simpulan dari Bapak Nur Hidayat pembacanya tidak cukup instan tetapi harus melalui metode lebih berkualitas. Dari Bapak Prasetyo Utomo, menurut beliau Triyanto membutuhkan 30 tahun tanpa henti berkarya. Simpulan Widyanuari juga menyebutkan bahwa sebuah buku diterapkan di buku lainnya melalui sulingan dari nama Beliau.
Curahan hati seorang penyair Bapak Triyanto yang mengawali karirnya dengan membuat salah satu hasil karyanya bercerita tentang pembunuhan. Adapun isi dari karyanya yaitu masuk ke sebuah jalan yang tidak begitu mewah. Jalan kesusastraan bukanlah jalan yang mewah. Kita semua berlomba-lomba menulis kebaikan manusia. Masih banyak mimpi-mimpi, hal-hal yang belum terselesaikan karena kehidupan kita banyak persoalan. Jika bunuh diri menjadi agama yang paling cocok, siapakah TuhanMu?
Bahwa kita tinggal di kampung bukan kampung yang biasa tetapi kita tinggal di Semarang. Kita tinggal di  kampung yang dapat membuat teks dan menjaga teks. Seperti teks yang dibacakan Bapak Triyanto merupakan kutipan hasil karyanya “Selalu ada yang hilang, selalu ada yang tak kembali”. Begitulah ungkapan Bapak Triyanto dalam acara penutupan bedah buku karyanya.
Puncak acara diakhiri dengan hiburan. Dalam arti acara pembedahan buku karya Bapak Triyanto segera berakhir. Acara tersebut terbilang sukses dengan adanya Mahasiswa beserta dosen-dosen yang sudah menghadiri kemeriahan Bulan Bahasa. Jadi, acara berjalan dengan lancar dan begitu meriah. Semoga di tahun depan semakin meriah acara Bulan Bahasa untuk memberikan grebekan-grebekan baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar