Nama : Ninik Hidayati
Kelas : 3E
NPM : 15410210
UPGRIS
Bersastra
Rabu (19/10) Balairung Universitas PGRI Semarang kembali
dibanjiri oleh Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni dalam rangka Bulan Bahasa. Tak
terkecuali dengan Mahasiswa beserta dosen yang sangat antusias memeriahkan
acara Bulan Bahasa. Bulan Bahasa diadakan rutin setiap tahunnya pada bulan
Oktober. Pada tahun ini mengusung tema dengan membedah buku karya Triyanto.
Tema tersebut mengusung judul 3 buku, 3 pembaca, 3 kritikus, dan 1 pengarang.
Pada awal acara Mahasiswa satu per satu berdatangan. Acara
dimulai pukul 08.30 WIB dengan mempersembahkan penampilan Biscuittime. Lampu dimatikan
supaya Mahasiswa fokus melihat ke depan. Acara selanjutnya berisi
sambutan-sambutan kepada yang menghadiri kegiatan tersebut. Tepuk tangan dari
Mahasiswa sangat ramai sekali.
Dalam
bedah buku karya Bapak Triyanto terdapat 3 persembahan yang didalamnya
mengandung makna dari beberapa karyanya. Pertama
persembahan karya beliau dimulai dengan menghadirkan pementasan teatrikal. Pementasan
tersebut menunjukkan sesosok perempuan laki-laki yang dilanda cinta melalui berbagai
rintangan. Sorotan lighting sangat menggambarkan tarian tersebut. Kedua terdapat
7 orang yang sedang membacakan puisi dengan cara seperti dieja. Suara mereka
tidak begitu lantang ketika di atas panggung. Kemungkinan tidak mengetahui
karya siapa yang sedang dibacakan.
Perhatian Mahasiswa beralih ke hal lain karena dinilai kurang
dimengerti. Mahasiswa tentunya bertanya-tanya puisi yang dilagukan seperti itu
malah kurang mendapat perhatian. Ketiga yang sangat menghebohkan yaitu
penampilan Bapak Rektor yang bersedia membacakan puisi. Sebelum membaca puisi
Beliau menunjukkan talentanya bermain gitar yang telah terinspirasi dari guru
Bahasa Indonesianya dahulu karena dinilai baik kepadanya. Sungguh menakjubkan
penampilan Bapak Rektor. Seperti tidak percaya dengan penampilannya selama ini.
Tidak berhenti sampai di sana, Bu Suci selaku Wakil rektor
tidak kalah saing dengan Bapak Rektor. Ia membacakan puisi ditemani oleh
Mahasiswi Bahasa Inggris dengan diiringi alunan lagu Jawa. Sungguh luar biasa
penampilan mereka berdua. Pembacaan puisi diiringi oleh penari-penari yang menggambarkan
makna puisi tersebut. Ketiga persembahan merupakan gambaran dari karya Bapak
Triyanto yang mewakili hasil puisi, cerpen, dll.
Dari beberapa penggambaran yang terdapat dalam hasil karya
Bapak Triyanto ada 3 kritikus yaitu Nur Hidayat, Prasetyo Utomo, Widyanuari Eko
Putro. Bapak Nur Hidayat merupakan kritikus yang pertama untuk mengulas tentang
hasil karya Bapak Triyanto. Bapak Nur Hidayat menekankan jika hasil dari
beberapa karya Bapak Triyanto akan sulit di baca orang lain. Karya sastranya
begitu menunjukkan tidak semua orang paham dengan apa yang ia tuliskan. Bapak
Nur Hidayat menilai dengan adanya karya sastra Bapak Triyanto, kualitasnya
begitu tinggi karena dibutuhkan pendalaman untuk memahami isi-isinya.
Kritikus yang kedua yaitu Bapak Prasetyo Utomo. Beliau
berkomentar lebih menjurus ke cerpen karya Bapak Triyanto. Menurut Bapak
Prasetyo, cerpen Triyanto juga sangat sulit dipahami oleh pembaca. Dalam
penulisan cerpen Triyanto menggunakan teori struktualisme yaitu teori membaca
yang membutuhkan metode-metode tertentu secara bertahap. Cerpen-cerpennya
hampir serupa dengan Ismail yang menggunakan 3 unsur. 3 unsur tersebut yaitu
tokoh, latar, dan alur. Sebagian cerpen Triyanto memiliki 3 unsur yang
mewakilinya. Maka tidak heran jika karyanya setiap tahun selalu masuk di koran kompas.
Hal ini terbukti ketika salah satu judul buku “Bersepeda ke Neraka” dipertaruhkan
dalam ajang tertentu.
Selanjutnya kritikus ketiga yaitu Widyanuari Eko Putro yang
lebih mengkritik dalam bidang puisi. Wiwid memang baru mengenal teks Bapak
Triyanto tahun 2009 hingga saat ini. Ia pertama kali mendapat antologi puisi
Jawa Tengah dengan membeli buku di pasar Johar. Kemudian ia belajar
terus-menerus hingga menggeluti di bidang puisi. Dengan demikian, Wiwid lebih
tertarik dengan mengkritik puisi yang berjudul “Selir Musim Panas”. Menurutnya kumpulan
kata-katanya sangatlah menarik dan bermakna. Meskipun Wiwid juga sependapat
dengan kedua kritikus yang menurutnya sulit untuk membaca dan memahami 1 puisi.
Oleh karena itu, 1 puisi Bapak Triyanto harus membaca 4 buku karya orang lain.
Hal tersebut dilandasi dengan sulitnya menjadi penyair. Wiwid berpendapat bahwa
ia bangga dengan Bapak Triyanto karena tidak mengusiakan dini menjadi seorang
penyair.
Ketiga kritikus tersebut sangat bangga dengan hasil karya
sastra Bapak Triyanto yang memang sangat menginspirasi generasi muda untuk
terus berkarya. Simpulan dari Bapak Nur Hidayat pembacanya tidak cukup instan
tetapi harus melalui metode lebih berkualitas. Dari Bapak Prasetyo Utomo,
menurut beliau Triyanto membutuhkan 30 tahun tanpa henti berkarya. Simpulan
Widyanuari juga menyebutkan bahwa sebuah buku diterapkan di buku lainnya
melalui sulingan dari nama Beliau.
Curahan hati seorang penyair Bapak Triyanto yang mengawali karirnya
dengan membuat salah satu hasil karyanya bercerita tentang pembunuhan. Adapun
isi dari karyanya yaitu masuk ke sebuah jalan yang tidak begitu mewah. Jalan
kesusastraan bukanlah jalan yang mewah. Kita semua berlomba-lomba menulis
kebaikan manusia. Masih banyak mimpi-mimpi, hal-hal yang belum terselesaikan
karena kehidupan kita banyak persoalan. Jika bunuh diri menjadi agama yang
paling cocok, siapakah TuhanMu?
Bahwa kita tinggal di kampung bukan kampung yang biasa tetapi
kita tinggal di Semarang. Kita tinggal di
kampung yang dapat membuat teks dan menjaga teks. Seperti teks yang
dibacakan Bapak Triyanto merupakan kutipan hasil karyanya “Selalu ada yang
hilang, selalu ada yang tak kembali”. Begitulah ungkapan Bapak Triyanto dalam
acara penutupan bedah buku karyanya.
Puncak acara diakhiri dengan hiburan. Dalam arti acara
pembedahan buku karya Bapak Triyanto segera berakhir. Acara tersebut terbilang
sukses dengan adanya Mahasiswa beserta dosen-dosen yang sudah menghadiri kemeriahan
Bulan Bahasa. Jadi, acara berjalan dengan lancar dan begitu meriah. Semoga di
tahun depan semakin meriah acara Bulan Bahasa untuk memberikan grebekan-grebekan
baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar