Minggu, 25 Desember 2016

Menanggapi opini tentang UN



Nama    : Ninik Hidayati
Kelas     : 3E
NPM     : 15410210


             Saya sependapat dengan opini Setia Naka Andrian. Menurut saya memang benar ketika para siswa akan menghadapi UN, mereka merasa ketakutan. Ketakutan tersebut menjadi momok yang harus dihadapi. Salah satu alasan mengapa siswa ketakutan mungkin karena mereka belum yakin apakah materi dalam mata pelajaran yang ia kuasai sesuai dengan kemampuan yang dipelajari atau belum. Tetapi seiring berkembangnya zaman, UN bukanlah penentu kelulusan seorang siswa dalam menempuh sekolah akhir. Nilai UN dapat digabung dengan nilai raport di akhir semester. Dengan demikian, UN bukan penentu seorang siswa lulus atau tidak sebagai  peserta didik. 
          Dengan memperhatikan beberapa nilai yang dapat diambil dari rapor, tidak ada alasan lagi untuk menghapus UN di Negara ini. Hal tersebut adalah salah satu upaya agar siswa tidak takut menghadapi UN dan tidak mengabaikannya. Di samping itu setiap sekolah mampu mengukur seberapa jauh kemampuan siswa di sekolahnya dalam mengikuti hasil akhir pembelajaran selama menempuh pembelajaran di sekolahan. Seberapa jauh kemampuan tersebut sebaiknya soal-soal yang dibuat pemerintah kota maupun provinsi hendaknya sesuai dengan tingkat kesulitan daerah tersebut. Maka, akan terbentuk keadilan didalam membuat dan menjawab soal UN dengan baik. Keadilan tercipta jika ada keseimbangan antara para siswa belajar dengan cara giat belajar. Oleh karena itu, akhir dari pembelajaran menunjukkan apakah siswa mampu menguasai materi yang sudah diajarkan di sekolah ketika mengerjakan soal UN. 
          Simpulannya UN tidak boleh dihapuskan karena UN memiliki bukti dan peran penting dalam perkembangan dunia pendidikan. Peran menteri pendidikan dan pemerintah diperlukan dalam pertimbangan apakah akan ada penghapusan UN atau tidak. Semoga UN tidak pernah dihapus karena untuk satu kepentingan pihak tertentu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar