Minggu, 25 Desember 2016

Membalas Surat dari Bapak Naka Setia Andrian



Nama   : Ninik Hidayati
Kelas   : 3E
NPM   : 15410210


Assalamualaikum wr. wb.
            Selamat malam juga Bapak Setia Naka Andrian. Kabar saya hari ini alhamdulillah baik. Menindaklanjuti surat yang Bapak tujukan kepada saya sekiranya wajib untuk  dibalas. Jujur, saya begitu terkejut dengan surat yang Bapak tulis. Saya sedikit bertanya-tanya untuk apa Bapak membuat surat ini.
            Adapun maksud dan tujuan Bapak menulis surat untuk meminta izin kepada Mahasiswa dalam perkuliahan. Permohonan izin Bapak melalui surat ini, ternyata ada kegiatan di luar kota. Saya jadi teringat perkuliahan minggu lalu ketika Bapak menerima telepon dari Badan Bahasa Jakarta. Ketika itu perkuliahan berhenti sejenak dan Bapak menjelaskannya dari siapa telepon tersebut.
            Pikiran saya masih terniang-niang lalu bertanya-tanya. Kenapa Bapak ditelepon ketika perkuliahan sedang berlangsung? Apakah cukup penting? Pertanyaan saya terjawab satu minggu kemudian. Akhirnya menemukan jawaban ketika membaca surat perizinan Bapak untuk pergi ke Jakarta. Tentunya ada alasan tersendiri dari pihak yang menelepon Bapak satu minggu yang lalu. Kepergian Bapak selalu menimbulkan berbagai alasan. Alasan tersebut bukan untuk kepentingan pribadi melainkan kepentingan dari Badan Bahasa Jakarta. Tidak dapat dipungkiri bahwa Bapak mempunyai tuntutan untuk menghadiri musyawarah sastrawan di Jakarta. Hal ini sudah pasti melekat dalam diri Bapak bukan?
            Kehadiran Bapak dalam perkuliahan memang menentukan proses belajar dengan lancar atau tidak. Tetapi kehadiran Bapak tidak ada dalam perkuliahan minggu ini. Menurut saya mustahil apabila dalam perkuliahan dosennya tidak dapat hadir, Mahasiswa akan terlihat bahagia. Disisi lain Mahasiswa juga berpikir akan segera mendapat tugas supaya segera diselesaikan. Saya pribadi juga berpikiran seperti itu. Tugasnya tidak lain berhubungan dengan dunia membaca, dunia menulis, dunia media masa dll. Bukan alasan saya untuk bermalas-malasan dengan tugas yang Bapak berikan. Jika sudah kepepet mungkin baru berbondong-bondong menyelesaikan tugasnya.
            Sambung menyambung menjadi satu itulah ibarat tugas yang akan terus menumpuk. Tugas yang Bapak Naka berikan membuat saya kagum karena berpihak pada waktu batas pengumpulan.

            Saya haruslah berkejaran dengan tugas karena mereka menuntunku untuk berlari mengejarnya. Seperti pemadam kebakaran yang harus terjun ke lapangan dengan dicampuri rasa takut, ngantuk, dan detak jantung yang tak beraturan. Akan tetapi, terkadang saya masih banyak alasan untuk segera menyelesaikan tugas dari Bapak. Terkadang saya sangat  menyadari masih timbul hasrat malas karena bingung serta kurangnya pengalaman yang saya miliki.
            Sesungguhnya Bapak Naka sangatlah berhati mulia. Engkau begitu tergerak untuk menyatukan Mahasiswa dengan berbagai cara. Cara yang sederhana tetapi kurang diminati yaitu membaca buku, membeli koran, dan membuat kliping dari koran bekas. Rasa malas tersebut sulit dikalahkan dengan ketiga hal tersebut. Terlihat aneh ketika saya membeli sebuah buku, rasanya seperti tidak ikhlas uangnya melayang ke toko buku. Namun, ketika uangnya melayang untuk belanja baju rasanya biasa saja.
            Tidak terlepas dari itu, saya ikut merasakan jika Bapak Naka menjadi muram. Kemuraman Bapak dipengaruhi sikap dari masing-masing Mahasiswa yang sulit aktif  baik dalam menjawab pertanyaan maupun menyampaikan ide dari tugas tersebut. Jujur ketika Bapak Naka memberikan tugas mendadak, saya sering merasa sebal dengan tugas tersebut. Di dalam hati ngomel sendiri. Apakah Bapak tidak mempunyai titik kejenuhan dalam memberikan tugas setiap pertemuan? Apakah Bapak juga ingin Mahasiswanya seperti ia ketika duduk di bangku kuliah? Sering kali bertanya kepada diri sendiri seperti itu. Pengalaman dan kerja keras Bapak sudah tidak diragukan lagi. Hal ini terbukti dari tugas-tugas yang Bapak berikan kepada saya ataupun Mahasiswa lainnya supaya menjadi teladan baik. Mungkin, saya tidak dapat meniru persis pengalaman Bapak ketika menjadi Mahasiswa.
            Akan tetapi, dibalik surat yang Bapak tulis mengandung banyak motivasi yang menurut saya harus diterapkan. Dari motivasi tersebut, terdapat simpulan apakah saya dapat menunjukkan jati diri dan menggali potensi yang terdapat di dalam diri saya. Itu semua tergantung dari usaha diri saya di  masa depan. Menurut saya, dalam menunjukkan jati diri harus berlatih dari hal yang kecil. Seperti halnya yang sudah disinggung dalam surat Bapak Naka ini, kita harus sering membaca buku. Dengan kebiasaan lama-lama akan semakin meningkat ke level selanjutnya yaitu  membeli buku. Pada akhirnya kita dapat membuat suatu narasi atau tulisan dari buku yang dibeli.
            Dengan demikian, ucapan terima kasih kepada Bapak Naka sangat layak karena sudah berkenan memberikan jurus terjitu melalui ilmunya kepada saya dan Mahasiswa yang lainnya. Ilmu yang sudah saya dapat hingga detik ini tentunya belum seberapa dengan Bapak Naka. Tetapi saya akan berusaha membuktikan kepada diri sendiri maupun orang lain dengan modal berkemauan keras untuk menghasilkan suatu karya yang bermakna dan bernilai. Dengan semangat baik dari fisik maupun mental terbukti sedikit demi sedikit membuat pola pikir saya menjadi lebih berkembang. Dengan pengetahuan yang saya dapatkan semoga lebih bermanfaat untuk semuanya. Saya yakin Bapak, jika suatu hari nanti saya akan menjadi orang sukses dengan memiliki segudang ilmu yang bermanfaat untuk orang lain.
            Mungkin hanya itu surat dari Bapak yang dapat saya balas. Kurang lebihnya saya mohon maaf jika terdapat kata-kata yang kurang berkenan di hati Bapak Naka. Bukan tujuan saya untuk mencaci-maki atau membenci Bapak melainkan semua ini berasal dari hati dan pikiran saya sendiri. Terima kasih dosenku yang selalu memberikan motivasi untuk terus berkarya.

Wassalamualaikum wr. wb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar