Nama : Ninik Hidayati
Kelas : 3E
NPM : 15410210
Assalamualaikum wr. wb.
Selamat
malam juga Bapak Setia Naka Andrian. Kabar saya hari ini alhamdulillah baik.
Menindaklanjuti surat yang Bapak tujukan kepada saya sekiranya wajib untuk dibalas. Jujur, saya begitu terkejut dengan
surat yang Bapak tulis. Saya sedikit bertanya-tanya untuk apa Bapak membuat
surat ini.
Adapun
maksud dan tujuan Bapak menulis surat untuk meminta izin kepada Mahasiswa dalam
perkuliahan. Permohonan izin Bapak melalui surat ini, ternyata ada kegiatan di
luar kota. Saya jadi teringat perkuliahan minggu lalu ketika Bapak menerima
telepon dari Badan Bahasa Jakarta. Ketika itu perkuliahan berhenti sejenak dan
Bapak menjelaskannya dari siapa telepon tersebut.
Pikiran
saya masih terniang-niang lalu bertanya-tanya. Kenapa Bapak ditelepon ketika
perkuliahan sedang berlangsung? Apakah cukup penting? Pertanyaan saya terjawab
satu minggu kemudian. Akhirnya menemukan jawaban ketika membaca surat perizinan
Bapak untuk pergi ke Jakarta. Tentunya ada alasan tersendiri dari pihak yang
menelepon Bapak satu minggu yang lalu. Kepergian Bapak selalu menimbulkan berbagai
alasan. Alasan tersebut bukan untuk kepentingan pribadi melainkan kepentingan
dari Badan Bahasa Jakarta. Tidak dapat dipungkiri bahwa Bapak mempunyai
tuntutan untuk menghadiri musyawarah sastrawan di Jakarta. Hal ini sudah pasti
melekat dalam diri Bapak bukan?
Kehadiran
Bapak dalam perkuliahan memang menentukan proses belajar dengan lancar atau
tidak. Tetapi kehadiran Bapak tidak ada dalam perkuliahan minggu ini. Menurut
saya mustahil apabila dalam perkuliahan dosennya tidak dapat hadir, Mahasiswa
akan terlihat bahagia. Disisi lain Mahasiswa juga berpikir akan segera mendapat
tugas supaya segera diselesaikan. Saya pribadi juga berpikiran seperti itu.
Tugasnya tidak lain berhubungan dengan dunia membaca, dunia menulis, dunia
media masa dll. Bukan alasan saya untuk bermalas-malasan dengan tugas yang
Bapak berikan. Jika sudah kepepet mungkin baru berbondong-bondong menyelesaikan
tugasnya.
Sambung
menyambung menjadi satu itulah ibarat tugas yang akan terus menumpuk. Tugas
yang Bapak Naka berikan membuat saya kagum karena berpihak pada waktu batas
pengumpulan.
Saya
haruslah berkejaran dengan tugas karena mereka menuntunku untuk berlari
mengejarnya. Seperti pemadam kebakaran yang harus terjun ke lapangan dengan
dicampuri rasa takut, ngantuk, dan detak jantung yang tak beraturan. Akan
tetapi, terkadang saya masih banyak alasan untuk segera menyelesaikan tugas dari
Bapak. Terkadang saya sangat menyadari
masih timbul hasrat malas karena bingung serta kurangnya pengalaman yang saya
miliki.
Sesungguhnya
Bapak Naka sangatlah berhati mulia. Engkau begitu tergerak untuk menyatukan
Mahasiswa dengan berbagai cara. Cara yang sederhana tetapi kurang diminati
yaitu membaca buku, membeli koran, dan membuat kliping dari koran bekas. Rasa
malas tersebut sulit dikalahkan dengan ketiga hal tersebut. Terlihat aneh ketika
saya membeli sebuah buku, rasanya seperti tidak ikhlas uangnya melayang ke toko
buku. Namun, ketika uangnya melayang untuk belanja baju rasanya biasa saja.
Tidak
terlepas dari itu, saya ikut merasakan jika Bapak Naka menjadi muram. Kemuraman
Bapak dipengaruhi sikap dari masing-masing Mahasiswa yang sulit aktif baik dalam menjawab pertanyaan maupun
menyampaikan ide dari tugas tersebut. Jujur ketika Bapak Naka memberikan tugas
mendadak, saya sering merasa sebal dengan tugas tersebut. Di dalam hati ngomel
sendiri. Apakah Bapak tidak mempunyai titik kejenuhan dalam memberikan tugas
setiap pertemuan? Apakah Bapak juga ingin Mahasiswanya seperti ia ketika duduk
di bangku kuliah? Sering kali bertanya kepada diri sendiri seperti itu.
Pengalaman dan kerja keras Bapak sudah tidak diragukan lagi. Hal ini terbukti
dari tugas-tugas yang Bapak berikan kepada saya ataupun Mahasiswa lainnya
supaya menjadi teladan baik. Mungkin, saya tidak dapat meniru persis pengalaman
Bapak ketika menjadi Mahasiswa.
Akan
tetapi, dibalik surat yang Bapak tulis mengandung banyak motivasi yang menurut
saya harus diterapkan. Dari motivasi tersebut, terdapat simpulan apakah saya
dapat menunjukkan jati diri dan menggali potensi yang terdapat di dalam diri
saya. Itu semua tergantung dari usaha diri saya di masa depan. Menurut saya, dalam menunjukkan
jati diri harus berlatih dari hal yang kecil. Seperti halnya yang sudah
disinggung dalam surat Bapak Naka ini, kita harus sering membaca buku. Dengan
kebiasaan lama-lama akan semakin meningkat ke level selanjutnya yaitu membeli buku. Pada akhirnya kita dapat
membuat suatu narasi atau tulisan dari buku yang dibeli.
Dengan
demikian, ucapan terima kasih kepada Bapak Naka sangat layak karena sudah
berkenan memberikan jurus terjitu melalui ilmunya kepada saya dan Mahasiswa
yang lainnya. Ilmu yang sudah saya dapat hingga detik ini tentunya belum
seberapa dengan Bapak Naka. Tetapi saya akan berusaha membuktikan kepada diri
sendiri maupun orang lain dengan modal berkemauan keras untuk menghasilkan
suatu karya yang bermakna dan bernilai. Dengan semangat baik dari fisik maupun
mental terbukti sedikit demi sedikit membuat pola pikir saya menjadi lebih
berkembang. Dengan pengetahuan yang saya dapatkan semoga lebih bermanfaat untuk
semuanya. Saya yakin Bapak, jika suatu hari nanti saya akan menjadi orang
sukses dengan memiliki segudang ilmu yang bermanfaat untuk orang lain.
Mungkin
hanya itu surat dari Bapak yang dapat saya balas. Kurang lebihnya saya mohon
maaf jika terdapat kata-kata yang kurang berkenan di hati Bapak Naka. Bukan
tujuan saya untuk mencaci-maki atau membenci Bapak melainkan semua ini berasal
dari hati dan pikiran saya sendiri. Terima kasih dosenku yang selalu memberikan
motivasi untuk terus berkarya.
Wassalamualaikum wr.
wb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar