Nama : Ninik Hidayati
Kelas : 3E
NPM : 15410210
JAKA TARUB
Selasa,
4 Oktober 2016 terselenggara pertunjukan pentas teater tepatnya di Gedung Pusat
Lantai 7 Universitas PGRI Semarang. Pentas tersebut diadakan oleh UKM Gema.
Teater Gema merupakan teater yang berasal dari Universitas PGRI Semarang.
Teater Gema bergerak dibidang seni peran atau akting.
Penonton dari
pentas teater dihadiri oleh Mahasiswa Universitas PGRI Semarang khususnya
Mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia . Tidak hanya
mahasiswa yang antusias menyaksikan
teater tersebut, tetapi pelajar dari SMA 1 Bringsing Batang juga ikut
berpartisipasi. Di dalam teater ini mengusung tema “Pentas Jaka Tarub dan
Monolog Balada Sumarah.”
Dengan lampu
yang menyala terlihat background kain
berwarna hitam dihiasi gambar bulan purnama dan pohon-pohon yang berdiri gagah.
Ditambah lagi dengan rumah yang terbuat dari
bambu dan jerami seperti gubuk sawah. Menarik memang jika rumah tersebut
dibentuk tempat tinggal orang desa.
Lampu itu meredup seketika diiringi dengan alunan lagu Jawa klasik. Penonton
terdiam sejenak menyaksikan pentas teater.
Cerita ini
terdapat alur cerita yang berbeda dari cerita yang lain karena kemunculan
seorang laki-laki separuh baya sedang beristirahat di atas anyaman kayu
tiba-tiba didatangi anak perempuannya. Secangkir air putih mampu melegakan
pikiran laki-laki separuh baya dari sebuah rahasia. Tak terkecuali gadis remaja
ini merasa penasaran. Laki-laki separuh baya masih mengenang masa mudanya
karena anak perempuannya selalu bertanya. Awal cerita yang cukup menarik karena
biasanya karakter tokoh Jaka Tarub disuguhkan langsung menjadi muda. Akan
tetapi, dalam teater ini karakternya sudah disusun menjadi tua.
Ada dua pemuda
laki-laki Jaka Tarub dan temannya duduk bersantai di atas kursi bambu yang
dianyam begitu rapi. Dalam percakapannya Jaka bermimpi ingin mendapatkan istri
seorang bidadari. Teman Jaka lalu menyanggah percakapan tersebut karena ia
bilang kepada Jaka “ora mungkin Jak, awake dewe kan wong ndeso arep entuk bojo
bidadari kui jenenge ngimpi.” Jaka tidak menanggapi komentar dari teman desanya
tersebut.
Jaka bergegas
pergi menuju suatu hutan untuk berburu. Ia dipertemukan dengan 7 perempuan yang
berperan sebagai bidadari. Menarik
memang jika panggung tersebut disusun rapi menjadi tangga yang diibaratkan
lantai paling atas yaitu kayangan dan lantai paling bawah bumi. Perjuangan mereka ketika turun dari tangga
ada yang terjatuh. Kecelakaan kecil tersebut tidak ada dalam skenario naskah
teater.
Perempuan yang jatuh tadi merasa kesakitan dan
teman-temannya serentak menolongnya. Kejadian tersebut membuktikan bahwa
terdapat hal lain untuk menguji
seseorang dalam bermain peran dapat konsisten atau tidak dengan membaca
situasi.
Adapun yang
menjadi khas yaitu selendang tersebut dikenakan para bidadari seolah-olah akan
terbang. Penampilan, make up, kostum,
cara berbahasa, dan sikap diperankan ketujuh perempuan dengan maksimal agar mendapat tanggapan yang baik dari penontonnya.
Bidadari itu lalu masuk di sebuah kolam. Tempatnya seperti kolam yang
dikelilingi batu-batuan dan diisi dengan sebuah plastik berwarna putih. Ada
alasannya jika diberikan plastik berukuran besar berwarna putih. Artinya warna
putih atau jernih merupakan ciri dari air itu sendiri. Sedangkan berukuran
besar karena terdengar gemercik air yang diandaikan suara plastik.
Di belakang
batu besar Jaka masih bersembunyi mengintip para bidadari untuk mengambil
selendangnya. Salah satu dari 7 bidadari tersebut kehilangan selendangnya yaitu
berperan dalam kebingungan dan kesedihan mereka sudah mencarinya tetapi tidak
ditemukan. Dengan besar hati terpaksa Nawang meminta kepada adik-adiknya untuk
segera kembali ke kayangan sebelum pagi hari tiba.
Di sungai itu
Nawang begitu bersedih, bingung apa yang harus ia lakukan. Nawang membuat
sebuah sayembara. Tidak lama kemudian Jaka menemui Nawang yang masih berendam
di dalam sungai. Jaka lalu berupaya untuk memberi pakaian agar segera dikenakan
Nawang Wulan. Mereka lalu berbincang-bincang, akhirnya Jaka menagih sebuah sayembara
yang didengarnya. Nawang Wulan menepati janjinya untuk menikah dengan Jaka
Tarub.
Cerita
sambungan tiba-tiba ada dua calonan lurah yang bernama Topo dan Tomo. Kemunculan
mereka berdua membuat penonton semakin ramai dengan lawakannya. Mungkinkah
kehadiran mereka berdua untuk memberi jeda kisah Jaka dan Nawang yang sedang
hamil. Kisah tersebut kembali berproses ketika anaknya ditinggal ibunya ke
kayangan akibat kebohongan Jaka Tarub. Lalu berlanjut anak Jaka Tarub tumbuh
menjadi remaja.
Akhir cerita
kembali mengulang awal cerita ketika Jaka Tarub sudah separuh baya. Bahasa yang
digunakan dalam teater ini ada dua bahasa yaitu Jawa dan Indonesia. Bahasa
tersebut disesuaikan dengan situasi dan kondisi ketika para pemeran berdialog
sesuai lawan bicaranya.
Pentas teater yang mengandung
makna:
Pentas teater
yang mengusung tema “Jaka Tarub” sangat menarik karena teater Gema mengingatkan
kita akan sejarah cerita rakyat. Pentas teater disihir dengan maksud dan tujuan untuk menambah
wawasan penonton mengenai sejarah. Dengan sejarah kita dapat berpikir kreatif
untuk mengembangangkan, menyiapkan, dan melakukan pentas teater menjadi semakin
menarik. Jadi, kita dapat mengambil kesimpulan jangan suka berbohong dalam hal
sekecil apapun. Jika kita tidak pernah jujur pada akhirnya kita tidak akan
dipercaya oleh orang lain. Dengan demikian, kita akan ditinggalkan oleh orang
yang pernah percaya kepada kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar