Minggu, 25 Desember 2016

Tugas Esai "Jaka Tarub"



Nama   : Ninik Hidayati
Kelas   : 3E
NPM   : 15410210


JAKA TARUB

            Selasa, 4 Oktober 2016 terselenggara pertunjukan pentas teater tepatnya di Gedung Pusat Lantai 7 Universitas PGRI Semarang. Pentas tersebut diadakan oleh UKM Gema. Teater Gema merupakan teater yang berasal dari Universitas PGRI Semarang. Teater Gema bergerak dibidang seni peran atau akting.
Penonton dari pentas teater dihadiri oleh Mahasiswa Universitas PGRI Semarang khususnya Mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia . Tidak hanya mahasiswa  yang antusias menyaksikan teater tersebut, tetapi pelajar dari SMA 1 Bringsing Batang juga ikut berpartisipasi. Di dalam teater ini mengusung tema “Pentas Jaka Tarub dan Monolog Balada Sumarah.”
Dengan lampu yang menyala terlihat background kain berwarna hitam dihiasi gambar bulan purnama dan pohon-pohon yang berdiri gagah. Ditambah lagi dengan rumah yang terbuat dari  bambu dan jerami seperti gubuk sawah. Menarik memang jika rumah tersebut dibentuk  tempat tinggal orang desa. Lampu itu meredup seketika diiringi dengan alunan lagu Jawa klasik. Penonton terdiam sejenak menyaksikan pentas teater.
Cerita ini terdapat alur cerita yang berbeda dari cerita yang lain karena kemunculan seorang laki-laki separuh baya sedang beristirahat di atas anyaman kayu tiba-tiba didatangi anak perempuannya. Secangkir air putih mampu melegakan pikiran laki-laki separuh baya dari sebuah rahasia. Tak terkecuali gadis remaja ini merasa penasaran. Laki-laki separuh baya masih mengenang masa mudanya karena anak perempuannya selalu bertanya. Awal cerita yang cukup menarik karena biasanya karakter tokoh Jaka Tarub disuguhkan langsung menjadi muda. Akan tetapi, dalam teater ini karakternya sudah disusun menjadi tua.
Ada dua pemuda laki-laki Jaka Tarub dan temannya duduk bersantai di atas kursi bambu yang dianyam begitu rapi. Dalam percakapannya Jaka bermimpi ingin mendapatkan istri seorang bidadari. Teman Jaka lalu menyanggah percakapan tersebut karena ia bilang kepada Jaka “ora mungkin Jak, awake dewe kan wong ndeso arep entuk bojo bidadari kui jenenge ngimpi.” Jaka tidak menanggapi komentar dari teman desanya tersebut.
Jaka bergegas pergi menuju suatu hutan untuk berburu. Ia dipertemukan dengan 7 perempuan yang  berperan sebagai bidadari. Menarik memang jika panggung tersebut disusun rapi menjadi tangga yang diibaratkan lantai paling atas yaitu kayangan dan lantai paling bawah  bumi. Perjuangan mereka ketika turun dari tangga ada yang terjatuh. Kecelakaan kecil tersebut tidak ada dalam skenario naskah teater.
 Perempuan yang jatuh tadi merasa kesakitan dan teman-temannya serentak menolongnya. Kejadian tersebut membuktikan bahwa terdapat  hal lain untuk menguji seseorang dalam bermain peran dapat konsisten atau tidak dengan membaca situasi.
Adapun yang menjadi khas yaitu selendang tersebut dikenakan para bidadari seolah-olah akan terbang. Penampilan, make up, kostum, cara berbahasa, dan sikap diperankan ketujuh perempuan dengan maksimal agar  mendapat tanggapan yang baik dari penontonnya. Bidadari itu lalu masuk di sebuah kolam. Tempatnya seperti kolam yang dikelilingi batu-batuan dan diisi dengan sebuah plastik berwarna putih. Ada alasannya jika diberikan plastik berukuran besar berwarna putih. Artinya warna putih atau jernih merupakan ciri dari air itu sendiri. Sedangkan berukuran besar karena terdengar gemercik air yang diandaikan suara plastik.
Di belakang batu besar Jaka masih bersembunyi mengintip para bidadari untuk mengambil selendangnya. Salah satu dari 7 bidadari tersebut kehilangan selendangnya yaitu berperan dalam kebingungan dan kesedihan mereka sudah mencarinya tetapi tidak ditemukan. Dengan besar hati terpaksa Nawang meminta kepada adik-adiknya untuk segera kembali ke kayangan sebelum pagi hari tiba.
Di sungai itu Nawang begitu bersedih, bingung apa yang harus ia lakukan. Nawang membuat sebuah sayembara. Tidak lama kemudian Jaka menemui Nawang yang masih berendam di dalam sungai. Jaka lalu berupaya untuk memberi pakaian agar segera dikenakan Nawang Wulan. Mereka lalu berbincang-bincang, akhirnya Jaka menagih sebuah sayembara yang didengarnya. Nawang Wulan menepati janjinya untuk menikah dengan Jaka Tarub.
Cerita sambungan tiba-tiba ada dua calonan lurah yang bernama Topo dan Tomo. Kemunculan mereka berdua membuat penonton semakin ramai dengan lawakannya. Mungkinkah kehadiran mereka berdua untuk memberi jeda kisah Jaka dan Nawang yang sedang hamil. Kisah tersebut kembali berproses ketika anaknya ditinggal ibunya ke kayangan akibat kebohongan Jaka Tarub. Lalu berlanjut anak Jaka Tarub tumbuh menjadi remaja.
Akhir cerita kembali mengulang awal cerita ketika Jaka Tarub sudah separuh baya. Bahasa yang digunakan dalam teater ini ada dua bahasa yaitu Jawa dan Indonesia. Bahasa tersebut disesuaikan dengan situasi dan kondisi ketika para pemeran berdialog sesuai lawan bicaranya.

Pentas teater yang mengandung makna:
Pentas teater yang mengusung tema “Jaka Tarub” sangat menarik karena teater Gema mengingatkan kita akan sejarah cerita rakyat. Pentas teater  disihir dengan maksud dan tujuan untuk menambah wawasan penonton mengenai sejarah. Dengan sejarah kita dapat berpikir kreatif untuk mengembangangkan, menyiapkan, dan melakukan pentas teater menjadi semakin menarik. Jadi, kita dapat mengambil kesimpulan jangan suka berbohong dalam hal sekecil apapun. Jika kita tidak pernah jujur pada akhirnya kita tidak akan dipercaya oleh orang lain. Dengan demikian, kita akan ditinggalkan oleh orang yang pernah percaya kepada kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar