Minggu, 25 Desember 2016

Menanggapi esai "Jaka Tarub" dari Rio



Nama   : Ninik Hidayati
NPM   : 15410210
Kelas   : 3E

Esai Jaka Tarub
Menanggapi esai “Jaka Tarub” dari hasil Rio Tri Astuti menurut saya kurang setuju  karena ia kurang memberikan ulasan dan kritikan terhadap pertunjukan drama teater dari berbagai sisi. Akan tetapi, kembali menceritakan ulang bagaimana sejarahnya. Memang jika kita menengok ke belakang tentunya kita sudah mengetahui seperti apa cerita sesungguhnya Jaka Tarub. Rio tidak perlu menceritakan kembali sejarah Jaka Tarub dengan panjang lebar.
            Seperti kalimat di awal paragraf pertama  Selasa (4/10), Mahasiswa Universitas PGRI Semarang mementaskan Drama  Jaka Tarub Dan Monolog Balada Sumarah di Gedung Pusat lantai 7” setelah kalimat tersebut seharusnya Rio dapat mengembangkannya  menjadi tujuan diadakan pementasan Drama. Selain itu, Rio dapat mengulas tentang dari teater mana yang menyelenggarakan drama tersebut. Keterangan tersebut sangatlah sesuai dengan keadaan bukan? Dengan hal tersebut nampak jelas ada alasan tersendiri dalam penampilan suatu drama yang telah disaksikannya. Oleh sebab itu, teater drama tersebut tidak dibahas sehingga Rio tidak menyebutkan mahasiswa dengan jurusan yang lebih spesifik menontonnya.
            Berhubungan dengan kalimat pertama, Rio lebih memilih menyambung kalimat seperti ini “Jaka Tarub merupakan cerita rakyat yang Legenda Jaka Tarub adalah salah satu cerita rakyat yang diabadikan dalam naskah populer Sastra Jawa Baru, Babad Tanah Jawi.” Kalimat tersebut sangatlah boros karena banyak kata yang seharusnya tidak ditambahkan. Pada intinya Rio terlihat ingin mengalihkan topik lain yaitu memberikan ruang baru terhadap pembaca drama yang diambil dari salah satu sejarah bangsa Indonesia. Akan tetapi, Rio tidak memberikan kesempatan sedikit untuk menjelaskannya secara singkat. Ia seperti menceritakan topic yang sudah tidak asing lagi bagi kalangan pelajar dan Mahasiswa.
            Hal ini terbukti ketika Rio meneruskan kalimat ketiganya “Kisah ini berputar pada kehidupan tokoh utama yang bernama Jaka Tarub.” Rio kemudian menceritakan legenda Jaka Tarub. Seharusnya sebelum menceritakan kisahnya ia dapat memberikan sebuah perkenalan dengan menyebutkan berbagai properti yang disediakan di dalam ruang pementasan. Seperti sudah lengkapkah persiapan properti yang telah disediakan ataukah sesuai dengan tema dalam konsep cerita.


            Rio lebih menekankan jika kisah tersebut dilanjutkan hingga tidak memperhatikan untuk melakukan penilaian terhadap tokoh yang bermain dalam teater. Seperti halnya ia ingin mendongengkan legenda Jaka Tarub bukan lagi memberi ulasan dan kritikan kepada drama yang sudah berlangsung beberapa minggu yang lalu. Padahal masih banyak komentar yang seharusnya ada untuk diberbincangkan mengenai kekurangan dalam drama tersebut. Rio tidak melihat sisi lain dari drama tetapi berfokus akan ceritanya terus-menerus.
            Masih banyak hal untuk diperhatikan oleh Rio seperti memperhatikan tokoh, lampu yang membuat cerita semakin hidup, pakaian yang digunakan seperti berada di zaman dahulu. Dari sisi peran bagaimana kelayakan semua dalam melalui adegan demi adegan. Hal tersebut diawali dengan tokoh Jaka Tarub yang tiba-tiba menjadi separuh baya dan perempuan dewasa yaitu anaknya. Pertanyaan tersebut akan muncul dengan sendirinya dari penonton yang menyaksikannya. Mengapa Jaka Tarub sudah menjadi tua? Siapa perempuan dewasa tersebut? Seperti itu yang ada dibenak penonton. Lebih lanjut sutradara membentuk alur cerita yang tidak biasa di dalam cerita tersebut.
            Ada hal yang menarik dan perlu dipertanyakan untuk pemeran 7 bidadari. Jika Rio memperhatikan hal ini tentunya unik. Dalam sebuah adegan, tokoh tersebut turun dari properti yaitu tangga. Mereka berjalan sangat pelan-pelan dan hati-hati. Akan tetapi, tiba-tiba salah satu dari mereka terjatuh entah itu adegan dibuat-buat atau memang alami dengan terjadi sendiri tanpa ada diskenario. Penonton yang melihatnya pasti merasa kasihan dan bertanya-tanya. Hal ini dapat dijadikan topik yang menarik di dalam teater drama tersebut.
            Selain dari tokoh, Rio dapat menjelaskan lampu yang digunakan untuk mendukung teater yang disesuaikan dengan warnanya. Dengan adanya lampu dapat memperjelas titik fokus pada tokoh  yang sedang bermain drama. Apalagi ketika lampu dipadamkan atau dimatikan akan memiliki makna tertentu. Ditambah lagi dengan background hitam dibuat dengan perlengkapan seperti di dunia nyata.
            Selanjutnya ada pemeran lain yaitu dua orang yang tiba-tiba muncul dengan mencalonkan diri menjadi lurah. Peran mereka tidak diketahui oleh penonton sebelumnya karena dalam cerita Jaka Tarub tidak ada sosok tokoh lurah. Mungkinkah mereka digunakan sebagai figur hiburan untuk menyela beberapa adegan yang sifatnya kilat. Seperti kehadiran mereka berdua untuk memberi jeda kisah Jaka dan Nawang yang berlangsung hingga hamil. Berbeda memang sebuah sejarah dibuat menjadi teater. Jika tidak ada tambahan pasti ada perubahan sedikit. Secara keseluruhan masing-masing tokoh mampu memerankan adegan di dalam situasi yang ada.
            Dengan demikian, Rio dapat menjabarkan sisi lain yang masih terdapat dalam drama teater. Banyak hal yang harus diperhatikan dalam berbagai prasarana maupun pemeran untuk menghasilkan teater yang menarik dan memiliki makna. Jadi, Rio dapat memberikan ulasan dan komentar lebih mendalam dari berbagai sisi untuk menghasilkan esai yang menarik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar