Nama : Ninik Hidayati
NPM : 15410210
Kelas : 3E
Esai Jaka Tarub
Menanggapi
esai “Jaka Tarub” dari hasil Rio Tri Astuti menurut saya kurang setuju karena ia kurang memberikan ulasan dan
kritikan terhadap pertunjukan drama teater dari berbagai sisi. Akan tetapi, kembali
menceritakan ulang bagaimana sejarahnya. Memang jika kita menengok ke belakang tentunya
kita sudah mengetahui seperti apa cerita sesungguhnya Jaka Tarub. Rio tidak perlu
menceritakan kembali sejarah Jaka Tarub dengan panjang lebar.
Seperti
kalimat di awal paragraf pertama “Selasa (4/10), Mahasiswa Universitas PGRI Semarang mementaskan
Drama Jaka Tarub Dan Monolog Balada
Sumarah di Gedung Pusat lantai 7” setelah kalimat tersebut seharusnya Rio dapat
mengembangkannya menjadi tujuan diadakan
pementasan Drama. Selain itu, Rio dapat mengulas tentang dari teater mana yang menyelenggarakan
drama tersebut. Keterangan tersebut sangatlah sesuai dengan keadaan bukan?
Dengan hal tersebut nampak jelas ada alasan tersendiri dalam penampilan suatu
drama yang telah disaksikannya. Oleh sebab itu, teater drama tersebut tidak
dibahas sehingga Rio tidak menyebutkan mahasiswa dengan jurusan yang lebih
spesifik menontonnya.
Berhubungan dengan kalimat pertama, Rio lebih memilih menyambung
kalimat seperti ini “Jaka Tarub merupakan cerita rakyat yang Legenda Jaka Tarub adalah salah satu cerita rakyat yang diabadikan dalam naskah populer
Sastra Jawa Baru, Babad Tanah Jawi.” Kalimat tersebut sangatlah boros
karena banyak kata yang seharusnya tidak ditambahkan. Pada intinya Rio terlihat
ingin mengalihkan topik lain yaitu memberikan ruang baru terhadap pembaca drama
yang diambil dari salah satu sejarah bangsa Indonesia. Akan tetapi, Rio tidak
memberikan kesempatan sedikit untuk menjelaskannya secara singkat. Ia seperti menceritakan
topic yang sudah tidak asing lagi bagi kalangan pelajar dan Mahasiswa.
Hal ini
terbukti ketika Rio meneruskan kalimat ketiganya “Kisah ini berputar pada
kehidupan tokoh utama yang bernama Jaka Tarub.” Rio kemudian menceritakan
legenda Jaka Tarub. Seharusnya sebelum menceritakan kisahnya ia dapat memberikan
sebuah perkenalan dengan menyebutkan berbagai properti yang disediakan di dalam
ruang pementasan. Seperti sudah lengkapkah persiapan properti yang telah
disediakan ataukah sesuai dengan tema dalam konsep cerita.
Rio
lebih menekankan jika kisah tersebut dilanjutkan hingga tidak memperhatikan
untuk melakukan penilaian terhadap tokoh yang bermain dalam teater. Seperti
halnya ia ingin mendongengkan legenda Jaka Tarub bukan lagi memberi ulasan dan kritikan
kepada drama yang sudah berlangsung beberapa minggu yang lalu. Padahal masih
banyak komentar yang seharusnya ada untuk diberbincangkan mengenai kekurangan
dalam drama tersebut. Rio tidak melihat sisi lain dari drama tetapi berfokus
akan ceritanya terus-menerus.
Masih banyak hal untuk diperhatikan oleh Rio seperti memperhatikan tokoh,
lampu yang membuat cerita semakin hidup, pakaian yang digunakan seperti berada
di zaman dahulu. Dari sisi peran bagaimana kelayakan semua dalam melalui adegan
demi adegan. Hal tersebut diawali dengan tokoh Jaka Tarub yang tiba-tiba menjadi
separuh baya dan perempuan dewasa yaitu anaknya. Pertanyaan tersebut akan
muncul dengan sendirinya dari penonton yang menyaksikannya. Mengapa Jaka Tarub
sudah menjadi tua? Siapa perempuan dewasa tersebut? Seperti itu yang ada
dibenak penonton. Lebih lanjut sutradara membentuk alur cerita yang tidak biasa
di dalam cerita tersebut.
Ada hal yang menarik dan perlu dipertanyakan untuk
pemeran 7 bidadari. Jika Rio memperhatikan hal ini tentunya unik. Dalam sebuah
adegan, tokoh tersebut turun dari properti yaitu tangga. Mereka berjalan sangat
pelan-pelan dan hati-hati. Akan tetapi, tiba-tiba salah satu dari mereka
terjatuh entah itu adegan dibuat-buat atau memang alami dengan terjadi sendiri
tanpa ada diskenario. Penonton yang melihatnya pasti merasa kasihan dan
bertanya-tanya. Hal ini dapat dijadikan topik yang menarik di dalam teater
drama tersebut.
Selain dari tokoh, Rio dapat menjelaskan lampu yang
digunakan untuk mendukung teater yang disesuaikan dengan warnanya. Dengan
adanya lampu dapat memperjelas titik fokus pada tokoh yang sedang bermain drama. Apalagi ketika
lampu dipadamkan atau dimatikan akan memiliki makna tertentu. Ditambah lagi
dengan background hitam dibuat dengan
perlengkapan seperti di dunia nyata.
Selanjutnya ada pemeran lain yaitu dua orang yang
tiba-tiba muncul dengan mencalonkan diri menjadi lurah. Peran mereka tidak
diketahui oleh penonton sebelumnya karena dalam cerita Jaka Tarub tidak ada
sosok tokoh lurah. Mungkinkah mereka digunakan sebagai figur hiburan untuk
menyela beberapa adegan yang sifatnya kilat. Seperti kehadiran mereka
berdua untuk memberi jeda kisah Jaka dan Nawang yang berlangsung hingga hamil. Berbeda memang sebuah sejarah dibuat menjadi teater. Jika tidak ada
tambahan pasti ada perubahan sedikit. Secara keseluruhan masing-masing tokoh
mampu memerankan adegan di dalam situasi yang ada.
Dengan demikian, Rio dapat menjabarkan sisi lain yang
masih terdapat dalam drama teater. Banyak hal yang harus diperhatikan dalam
berbagai prasarana maupun pemeran untuk menghasilkan teater yang menarik dan memiliki makna. Jadi, Rio dapat memberikan ulasan dan
komentar lebih mendalam dari berbagai sisi untuk menghasilkan esai yang menarik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar